Mengharap Cinta Pada perindu yang setia Perindu Yang Setia
SENYUM ITU
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
tumbuh beribu mimpi dikhayalku terlampaui senja hingga malam yang meradang kaulah senyum itu, berwujud jingga dalam cantiknya bingkai itu, mimpiku memilikimu khayalku menggenggam tanganmu juga nyataku menikahimu tersebut karna senyum itu,
Oleh: Ade Asep Syarifuddin SEORANG sarjana lulusan sebuah perguruan tinggi swasta mengikuti sebuah training. Entah apa yang diberikan di dalam training tersebut sampai-sampai ketika selesai dia memiliki keyakinan yang sangat tinggi. Dia bilang, sekarang dirinya bisa melakukan apapun yang dia mau. Terlihat tatapan matanya antusias, penuh semangat dan sangat enerjik. Sebulan kemudian saya bertemu lagi dengan sarjana tadi. Penampilannya jauh berbeda dengan satu bulan yang lalu. Dulu dia sangat semangat, percaya diri dan memiliki keyakinan yang kuat. Tetapi sekarang malah terlihat mengenaskan. Saya coba tanya dia dengan bahasa sederhana, “Apa yang telah terjadi?” Dengan pelan dia mengatakan, semua keyakinannya tidak terwujud karena dia memasang targat terlalu tinggi daripada kemampuan yang dimilikinya. Ya betul sekali…. keyakinan itu tidak bisa datang dalam waktu sekejap. Butuh waktu dan proses yang cukup lama. Jika keyakinan itu datang dengan cepat, maka hilangnya juga...
aku makhluk bisu penuh dosa.. berdiri dipadang gersang tak bernyawa.. menatap langit tak berwarna.. hitam... kelam... bagai hati mereka yang tak peduli akan kehidupan... selalu senyum palsu mereka buat... selalu kesalahan mereka angkat... kebenaran... keadilan... kejujuran... bukan bersemayam didada mereka... mereka jelmaan iblis dari neraka... aku tak mampu sadarkan dunia... aku tak bisa bahagiakan saudara... kini aku hanyalah jasad tanpa raga... tak mampu berbuat segalanya... AKU MAKHLUK BISU TAK BERDAYA...
Seorang pensiunan guru berjalan menuju kasir di K-Mart, supermarket yang lumayan terkenal di kota itu. Kaki kirinya terasa sakit, ia berharap tidak lupa untuk meminum semua pilnya tadi pagi. Satu pil untuk tekanan darah tinggi, satu pil untuk pusing-pusing, dan satu pil lagi untuk penyakit rematiknya yang kadang kambuh. ?Syukurlah aku telah pensiun beberapa tahun lalu? katanya kepada diri sendiri. ?Masihkah aku kuat mengajar anak-anak sekarang ?? Begitu tiba di depan antrian kasir yang penuh, ia melihat seorang lelaki dengan empat orang anak beserta istrinya yang hamil. Mantan guru itu tidak dapat melepaskan pandangannya dari tato di leher orang itu. ?Pasti ia pernah dipenjara?, pikirnya. Ia terus memperhatikan penampilan pria itu. Dari cara pria itu berpakaian, mantan guru itu berkesimpulan bahwa ia adalah seorang anggota geng. Mata pensiunan tua itu tambah terperanjat ketika melihat kalung yang dikenakannya, bertuliskan ?Parlson? ? pasti ini adalah nama orang itu. Parlson dike...
Komentar